• NEWS
  • Homework post COP Paris

Pekerjaan Rumah Usai COP Paris

Jakarta – Pekerjaan besar akan dilakukan pemerintah seusai mengikuti Conference of the Parties (COP) Ke-21 di Paris. “Kita akan mereview Rencana Aksi Nasional Gas-Gas Rumah Kaca (RAN GRK),” kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya pada rapat evaluasi Delegasi Indonesia di COP pada 18 Desember 2015 di Jakarta.

Selain itu, KLHK akan merestrukturisasi lembaga Dewan Pengarah Perubahan Iklim, konsolidasi metodologi MRV (measurement, reporting and verification) dan mendiskusikan target Intended Nationally-Determined Contribution (dokumen kontribusi penurunan emisi karbon yang diniatkan) per sektor.

Menteri Siti meminta jajarannya melakukan tindak lanjut kerja sama yang diteken selama COP Paris dengan sejumlah negara. Yakni soal blue carbon dengan pemerintah Australia. Lalu upaya merestorasi lahan gambut dengan pemerintah Finlandia, Swedia, Kanada, dan Norwegia. Terakhir kerja sama dengan Jerman, Inggris, dan Norwegia di bidang kehutanan.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Nur Masripatin telah menyusun jadwal pertemuan terkait dengan target INDC tiap sektor. Termasuk menyiapkan dokumen yang akan di-submit ke Adhoc Working Group on Paris Agreement dan working group lainnya.

“Juga persiapan dalam rangka penandatanganan Paris Agreement pada 22 April 2015 dan ratifikasinya,” kata Nur Masripatin. Menurutnya, misi Indonesia ke COP-21 Paris (30 November – 12 Desember 2015) memperjuangkan kepentingan melalui dua track, yaitu jalur negosiasi dan outreach and campaign.

Ada beberapa point penting posisi Indonesia yang berhasil dibawa. Antara lain perlunya mencapai kesepakatan yang ambisius, mengikat, yang adil bagi negara berkembang. Lalu kesepakatan harus menghormati hak-hak indigenous people dan local communities.

Kesepakatan mengacu pada pelestarian hutan dan laut serta keanekaragaman hayati. Point lainnya menyangkut REDD+ akselesasi menuju 2020.

Karena menurut UNEP kenaikan suhu 2oC sangat mungkin terjadi lebih cepat dari 2020 bila tidak ditangani secara komitmen. Terakhir adalah perlunya pendanaan sebelum dan sesudah 2020.

0
share this on:

Buletin

Maret
  • Maret
  • Februari
  • Januari

United Nations Development Programme - 2016