• NEWS
  • Developing Teaching Materials on Training of Forest Fire Management

Menyusun Bahan Ajar Pelatihan Penanganan Kebakaran Hutan

Bogor – Pelatih dan peserta Lokakarya Penyerasian Pengajaran dan Materi Presentasi Program CBFFM di Lima Provinsi saling membagi pengalaman. Lokakarya yang diadakan UNDP-REDD+ di Bogor pada 21-22 Desember 2015 bertujuan menyusun bahan ajar Community Based Forest Fire Management (CBFFM) atau Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan Berbasis Masyarakat.

Peserta berasal dari lima provinsi yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Mereka selama ini menjadi pelatih dan mendampingi warga memadamkan kebakaran di daerahnya.

Salah satu yang membagi pengalaman adalah Suprayitno, dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dia bercerita pengalamannya ketika menangani pengendalian kebakaran hutan dan lahan pada tahun 1997.

Ketika itu terjadi kebakaran yang dahsyat di Kalimantan dan Sumatera. Dia mengerahkan 50 polisi hutan untuk memadamkan api di satu wilayah dekat pemukiman transmigrasi di Bengkulu. Sekitar 500 warga transmigran hanya menyaksikan pemadaman karena mereka yang membakar lahannya untuk pembersihan lahan dan ditanam kembali.

Keesokan harinya warga ikut serta memadamkan api karena diberikan uang oleh petugas. Namun esoknya, mereka membakar lagi dengan harapan dapat uang. “Kita harus pelajari bagaimana pendekatan ke masyarakat agar mereka menjadi sukarelawan. Intinya jangan terlalu banyak memberi filosofi karena menyulitkan kita masuk ke warga,” katanya.

Prama Gustian, dari Balai Diklat Kehutanan Bogor menambahkan bahwa slide dan penyampaian materi pelatihan harus lebih menarik. Perbanyak bahan gambar jangan hanya tulisan. “Seperti tipe-tipe kebakaran diperbanyak contoh gambarnya,” katanya.

Asli dari Balai Diklat Kehutanan Samarinda menjelaskan tujuan pembelajaran diawal setelah bagian judul. Lalu masuk ke bagian pendahuluan dan penyebab serta dampak kebakaran. Titik poinnya agar peserta tahu maksud dari pelatihan ini. Walhasil, penyebab kebakaran dipisahkan antara faktor alam dan manusia. Lalu ada bagian lagi soal kesengajaan dan kelalaian.

Narasumber lain, Baru, menjelaskan kita kurikulum yang lebih deduktif untuk penempatan penyebab dan dampak kebakaran. “Nanti tim pengajar yang lebih bisa improvisasi dan lebih mengena seperti apa kepada pesertanya,” katanya.

Sebenarnya, sejak 2013, Komisi Daerah (Komda) REDD+ melakukan pelatihan ke berbagai kelompok penanggulangan kebakaran hutan di masyarakat. Pelatihan itu dibantu Badan Pengelola (BP) REDD+ dan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan (Pusdiklathut) Kementerian Kehutanan.

Selama dua hari peserta lokakarya di Bogor pada 21-22 Desember 2015 menyusun bahan ajar mengenai dasardasar kebakaran lahan dan hutan; teknik pencegahan dan pemadaman; bagaimana membangkitkan partisipasi masyarakat; bagaimana teknik penanganan paska kebakaran lahan dan hutan; soal kebijakan dan peraturan; dan materi navigasi darat. Pada Januari 2016 rencananya akan dilakukan sosialisasi hasil lokakarya di lima provinsi.

share this on:

Buletin

Maret
  • Maret
  • Februari
  • Januari

United Nations Development Programme - 2016